Mechanical - Electrical Engineering

Jumat, 01 November 2013

Nuklir Setelah Tragedi Fukushima

PLTN Fukushima
Kecelakaan nuklir di mana pun selalu memperburuk kepercayaan publik terhadap teknologi pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Di Indonesia, tingkat penerimaan terhadap nuklir sempat mencapai 59,7% sebelum perisitiwa Fukushima. Angka itu lalu jatuh ke 49,5% pascakecelakaan Fukushima pada 2011. Namun, perlahan angka itu naik menjadi 52,9% menjelang akhir 2012. Bagaimana nasib nuklir sebagai alternatif pembangkit listrik di masa depan?

Di Jepang, dari 52 unit PLTN yang ada, hanya dua yang beroperasi. Selebihnya ditempatkan pada posisi idle, menunggu keputusan boleht idaknya dioperasikan lagi. Dampak sosial penghentian mayoritas PLTN di Jepang sudah dirasakan masyarakatnya, seperti naiknya biaya energi dan terhambatnya ekonomi di negeri yang 30% energinya bergantung kepada nuklir.

PM Shinzo Abe yang sekarang memerintah terkesan sangat hati-hati mengenai kelanjutan PLTN tersebut walaupun mayoritas wali kota di daerah dalam radius 30 km setuju PLTN beroperasi lagi. Ia mengatakan pihaknya akan mengkaji ulang keinginan PM sebelumnya untuk menutup semua PLTN Jepang. Abe bahkan mengatakan dalam wawancara TV pertamanya setelah terpilih bahwa ia akan membangun PLTN desain baru yang jauh lebih aman untuk membangun perekonomian Jepang.

Meski begitu, bicara tentang PLTN merupakan hal yang sangat sensitif di Jepang. Tampaknya, keputusan untuk me-restart 50 PLTN yang sedang menganggur itu akan sulit dilakukan sebelum Juli 2013, saat Majelis Tinggi Jepang yang baru akan terbentuk dan bersidang. Juli itu juga merupakan tenggat bagi Badan Pengawas Nuklir Jepang, yang merupakan badan baru dan independen, menyusun aturan terkini mengenai persyaratan beroperasinya PLTN di Jepang. Sementara itu, upaya Jepang untuk mengekspor PLTN ke luar negeri terus dilakukan. Sebagaimana diberitakan harian Media Indonesia, 12 Februari, Jepang membidik Arab Saudi sebagai tujuan ekspor PLTN mereka. Sebelumnya Jepang telah mengikat deal dengan Vietnam.

Di Jerman, keputusan untuk menutup PLTN semakin mendapat dukungan pascaFukushima. Listrik dari nuklir dibebani pajak yang tidak dikenakan kepada moda pembangkitan listrik lain. Pajak yang ditimpakan karena 'menimbulkan rasa ketakutan' itu tentu saja berbau diskriminatif dan dijadikan cara mudah untuk menambah devisa. Baru-baru ini pajak kontroversial tersebut dinyatakan pengadilan pajak Hamburg 'inkonstitusional' dan diajukan ke mahkamah konstitusi.

Hikmah dari semua itu ialah semakin hebatnya pengembangan energi terbarukan (ET). Tentu saja hal itu baik bagi diversifikasi energi dan lingkungan hidup. Namun, menafikan energi nuklir menjadi beban yang cukup mahal. Kini mereka harus mengimpor listrik lebih banyak daripada negara tetangga seperti Prancis, yang notabene menghasilkan hampir 80% listrik mereka dari nuklir.

Permasalahan lain dengan ET yang digunakan di sana ialah sumbernya berada di utara, sedangkan sebagian besar industri berada di selatan, sehingga muncul biaya transmisi tambahan. Belum lagi sifat ET yang tidak stabil, tergantung keadaan cuaca, intermittent, dan umumnya berkapasitas rendah. Skema feed-in tariff yang diterapkan di sana ujung-ujungnya membebani konsumen juga.

Bagaimana dengan negara-negara lain? Inggris dan Amerika Serikat nyaris tidak terpengaruh oleh kecelakaan nuklir Fukushima. China dan Korea sempat terpengaruh sesaat, tetapi setelah kaji ulang terhadap keselamatan, mereka semakin memantapkan program PLTN. UEA, Turki, Bangladesh, dan Vietnam jalan terus dengan pembangunan proyek PLTN mereka. Tahap persiapan di negara jiran seperti Malaysia, Filipina, Thailand terus berjalan.

Memang kebutuhan energi yang sejalan dengan pertumbuhan penduduk dan ekonomi di tengah-tengah terkurasnya sumber daya bahan bakar fosil merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari. Menurut Laporan Dewan Energi Dunia (WEC), semakin mahalnya harga energi akhir-akhir ini, ditambah resesi global, ketidakmenentuan politik, dan perubahan iklim telah mengurangi kekhawatiran para pemimpin energi dunia terhadap PLTN. Laporan itu juga menyebutkan pengembangan ET dan peningkatan efisiensi energi merupakan teknologi yang perlu diupayakan. Laporan itu dibuat berdasarkan survei terhadap para menteri, CEO, dan pakar energi dari 90 negara.

Di Indonesia, masalah PLTN dan bahkan bauran energi secara umum, akhir-akhir ini, tampaknya tertutup oleh isu politik yang lebih menarik. Namun, upaya diversifikasi energi harus terus dilakukan di tengah-tengah mulai mahalnya harga BBM dan semakin terasanya dampak perubahan iklim akibat penggunaan bahan bakar fosil secara berlebihan.

Energi terbarukan merupakan salah satu opsi penting walaupun disadari, sumber energi itu di Indonesia tidak akan mencukupi karena kondisi geografis yang kurang ideal untuk jenis tenaga angin dan surya. Potensi sumber geotermal yang ada jauh di bawah kebutuhan masa depan bangsa ini yang diharapkan menjadi 10 besar dunia pada 2030. Oleh karena itu, bagaimanapun, tenaga nuklir harus diupayakan. Jangan didiskriminasi.

Salah satu hikmah peristiwa Fukushima ialah pengetahuan umum masyarakat tentang pemanfaatan nuklir semakin baik. Indikasinya ialah hasil survei Batan yang menunjukkan proporsi masyarakat yang menjawab 'tidak tahu' tentang nuklir semakin berkurang. Masyarakat semakin sadar perlunya mengutamakan keselamatan dan tidak boleh merasa cepat puas dengan tingkat keselamatan nuklir yang selama ini diketahui sudah sangat baik dengan budaya keselamatannya. Upaya diversifikasi energi harus terus dilakukan di tengah-tengah mulai mahalnya harga BBM dan semakin terasanya dampak perubahan iklim.
Sumber : Media Indonesia, Humaristek

0 komentar:

Posting Komentar