Mechanical - Electrical Engineering

Jumat, 01 November 2013

Microturbine

Microturbine
Mikroturbin merupakan teknologi paling mutakhir dan telah memasuki pasar pada 1999 dan 2000. Teknologi mikroturbin diadopsi dari teknologi turbin gas yang lazim digunakan di pesawat terbang dan diesel engine turbocharger pada mesin otomotif.

Pada 1998 sebuah industri mikroturbin di Amerika Serikat memulai pengembangan konsep. Dan 10 tahun berselang perusahaan tersebut menjadi yang pertama menghasilkan mikroturbin berskala komersial untuk masuk ke pasar penyedia energi listrik. Pertama kali masuk pasar, mikroturbin digunakan sebagai pembangkit listrik stasioner.

Mikroturbin tak banyak memiliki komponen bergerak, tanpa pelumas, dan tanpa pendingin. Tenaga listrik berfrekuensi tinggi yang dihasilkan turbo generator diubah secara elektronik menjadi tenaga listrik berfrekuensi 50 sampai 60 Hz yang bisa langsung dimanfaatkan.

Masyarakat pertama kali mengenal mikroturbin Cogeneration pada 1998. Saat itu baru dua unit mikroturbin yang dipasang. Setahun setelahnya, penggunaan mikroturbin meningkat menjadi 211 unit yang menghasilkan listrik 6 MW. Peningkatan terus terjadi pada tahun 2000 ketika terdapat 790 unit mikroturbin yang dipasang dan menghasilkan listrik 23,7 MW. Peningkatan luar biasa terjadi pada tahun 2001 saat jumlah mikroturbin yang dipasang berjumlah 1.153 unit dan menghasilkan 48,3 MW listrik.

Mikroturbin dapat dijalankan dengan menggunakan bahan bakar gas maupun cair, dan memiliki emisi gas buang sangat rendah. Ini menempatkan mikroturbin sebagai sumber tenaga yang bersih, hijau, dan sekaligus andal. Tiap unit mikroturbin pada dasarnya memiliki sejumlah komponen inti yang saling terintegrasi, seperti mesin turbo berbasis udara, magnetic generator pembangkit, serta teknologi bantalan udara (air bearing) yang minim perawatan.

Dengan kelebihan-kelebihannya tersebut, mikroturbin bisa dimanfaatkan untuk berbagai aplikasi. Selain sebagai pembangkit listrik stationer, mikroturbin juga sanggup untuk pembangkit Cogeneration ataupun sebagai penggerak mesin pada mobil hybrid listrik (Hybrid Electric Vehicles, HEV). Daya yang dihasilkan dari sebuah mikroturbin bisa diatur, antara 30 kW hingga beberapa MW. Dari kinerjanya yang andal, mikroturbin membuktikan sebagai salah satu solusi bagi kebutuhan akan tenaga listrik di bawah 2 MW, terutama karena mikroturbin tak memerlukan pengawasan penuh selama bekerja.

Suplai Listrik untuk Apartemen di Korea Selatan

Pada salah satu kompleks apartemen seluas 44.520 meter persegi di Korea Selatan, kebutuhan listriknya disuplai oleh 10 unit mikroturbin. Rangkaian mikroturbin ini berfungsi untuk menghasilkan kombinasi antara suplai listrik serta panas (Combined Heat and Power, CHP) secara efisien.

Di sini mikroturbin berfungsi untuk mendaur ulang limbah panas yang timbul selama generator diaktifkan. Dengan kemampuannya untuk memanfaatkan limbah panas ini, mikroturbin sanggup menghasilkan efisiensi hingga 80%. Mikroturbin CHP juga bermanfaat menurunkan emisi gas NOx serta CO2, sebuah keunggulan yang tidak dimiliki generator berteknologi tradisional.

Mikroturbin Biogas Kotoran Ternak Pedesaan


Proyek mikroturbin pertama berupa pemasangan dua unit sistem berbahan bakar biogas. Proyek ini berlangsung di Purulia, Bengali Barat, India. Proyek ini mendapat dana bersama dari Pemerintah Pusat India, Pemerintah Provinsi Bengali Barat, USAID, serta Kementerian Energi Amerika Serikat.

India mempunyai potensi besar bagi pengembangan penyediaan listrik bertenaga gas bio dari kotoran ternak untuk kawasan pedesaan. Mikroturbin sanggup membakar sempurna beberapa jenis ga, seperti gas metana serta beberapa jenis gas lain yang timbul selama penggalian tanah untuk proses daur ulang, biogas dari kotoran ternak, serta gas yang timbul di pusat penghancuran sisa-sisa makanan. Dua buah unit mikroturbin disana masih terus berfungsi untuk menyuplai kebutuhan listrik di kawasan-kawasan pedesaan.


Sumber: See (Source of Information on Energy Efficiency) Vol 1

0 komentar:

Posting Komentar