Mechanical - Electrical Engineering

Rabu, 02 Oktober 2013

Kurangi Energi Fosil, Tingkatkan Energi Baru Terbarukan

BALI – Dalam pertemuan tingkat tinggi APEC Conference and Clean, Renewable and Sustainable Use of Energy (APCRES) di Hotel Ayodya, Nusa Dua, Bali. Akan dibahas pengembangan energy bersih yang berkelanjutan dengan berbagai upaya dan strategi untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar berbasil fosil seperti minyak dan gas bumi. Masa depan energy Indonesia dan dunia terdapat dalam energy baru terbarukan.

Ketergantungan terhadap energy berbasis fosil dialami hampir disetiap Negara bukan hanya Indonesia. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia mencatat bahwa konsumsi energi pada tahun 2011 masih didominasi oleh energi fosil, yaitu minyak bumi sebesar 594 juta SBM atau sebesar 39% dari total konsumsi energi nasional, diikuti batu bara sebesar 334 juta SBM atau sebanyak 22%, biomassa sebesar 280 juta SBM atau 18%, gas alam sebesar 261 juta SBM atau 17%, tenaga air 31 juta SBM atau 2%, dan panas bumi sebesar 15 juta SBM atau 1%.

Di lain pihak, Indonesia, memiliki potensi energi baru terbarukan yang besar. Sebagai negara tropis, Indonesia mempunyai potensi energi surya yang cukup tinggi. Berdasarkan hasil studi diperkirakan bahwa potensi energi air mencapai 75 GW, dan Indonesia sebagai negara yang terletak di kawasan gunung berapi, mempunyai potensi panas bumi kira-kira sebesar 29 GW. Potensi energi terbarukan lainnya yang tinggi yaitu bioenergi diperkirakan mencapai 49 GW. Selain energi terbarukan, Indonesia juga memiliki potensi energi yang baru dikembangkan seperti shale gas dan Coal Bed Methane (CBM). Potensi CBM telah teridentifikasi sebesar 453 TCF, dan shale gas sebesar 574 TCF.

Untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil tersebut, Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan dua kebijakan utama di bidang energy;, yaitu kebijakan konservasi energi dan kebijakan diversifikasi energi. Berbagai upaya telah dilakukan Pemerintah Indonesia dalam mengembangkan energi baru terbarukan dan teknologi energi yang efisien, diantaranya dengan melakukan penyempurnaan kebijakan dan peraturan, seperti dikeluarkannya peraturan feed-in-tariff dan kebijakan insentif untuk pemanfaatan energi baru terbarukan dan teknologi energi yang efisien. Lebih jauh lagi, Pemerintah mendorong penciptaan iklim investasi yang kondusif dan berpartisipasi aktif pada organisasi internasional baik di tingkat regional maupun global.

Pertemuan APEC 2013 yang digagas Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Kementerian ESDM dengan Kementerian Luar Negeri, Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI), dan APEC Energy Working Group, serta didukung oleh Kamar Dagang Indonesia (KADIN), Asia Pacific Business Advisory Council (ABAC), merupakan salah satu upaya strategis untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang stabil melalui peningkatan kerja sama di sektor energi terbarukan dan konservasi energi demi mewujudkan ketahanan energi baik nasional, maupun regional. Pertemuan tersebut juga merupakan suatu kesempatan bagi Indonesia untuk lebih berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi yang hijau baik di tingkat regional Asia dan Pasifik, maupun di tingkat global, dengan memaksimalkan pemanfaatan potensi energi baru terbarukan dan peningkatan implementasi teknologi energi yang efisien. (SF)
 
 
Sumber: Kemen ESDM

0 komentar:

Posting Komentar