Mechanical - Electrical Engineering

Kamis, 17 Oktober 2013

Kelapa Sawit Menyimpan Potensi Energi Yang Luar Biasa


Kelapa Sawit menyimpan potensi energi yang luar biasa. Karena salah satu sumber biomassa lignoselulosa non pangan di Indonesia yang tersedia melimpah adalah Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) atau Oil Palm Empty Fruit Bunch dan pelepah kelapa sawit.

Luas perkebunan Indonesia sekitar 8,4 juta hektar yang menghasilkan 21,3 juta ton minyak sawit dengan potensi TKKS 20 juta ton keadaan basah atau 10 juta ton kering. Dengan kandungan selulosa yang cukup tinggi sekitar 41-47 persen, maka satu ton TKKS berpotensi menghasilkan etanol sebanyak 150 liter dan bila dikalikan 10 juta ton tentu jumlahnya sangat besar.

Biomassa lignoselulosa adalah salah satu dari sumber daya terbarukan dengan potensi besar di Indonesia. Namun, perkembangan bioethanol yang menggunakan sumber daya yang inedible harus memberikan kontribusi dalam usaha meningkatkan keberlangsungan lingkungan dan perubahan iklim di Indonesia,

Karenanya Menteri Negara Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta pada saat meresmikan Pilot Plant Bioetanol Lignoselulosa di Pusat Penelitian Kimia – LIPI beberapa waktu lalu mengatakan perlunya komitmen dan dukungan dari semua aktor dalam inovasi dan masyarakat untuk mendorong adopsi hasil penelitian ke industri.

"Dengan produksi 10 L bioethanol 99.5 persen per hari, teknologi ini berpotensi untuk mendukung produksi bio-fuel di pasar. Berharap program ini dapat berkontribusi dalam memecahkan permasalahan di Indonesia khususnya di bidang energy”, kata Menegristek.

Sementara itu Kepala LIPI, Prof. Lukman Hakim mengatakan untuk menemukan cara terbaik dan efisien dalam memproduksi bio-fuel dengan kualitas tinggi dari substansi alam dan limbah tumbuhan yang jumlahnya banyak di Indonesia LIPI bekerjasama dengan  Republik Korea yang menyediakan grant melalui KOICA (Korean Office for International Cooperation Agency) serta dukungan teknologi melalui KIST (Korean Institute of Science and Technology) dan Changhae Engineering.

Peneliti Kimia, Dr Haznan Abimanyu, menuturkan, penggunaan etanol sebagai bahan bakar mempunyai beberapa keunggulan dibandingkan bahan bakar minyak (BBM). Di antaranya, 1) kandungan oksigen yang tinggi (35 persen) sehingga bila dibakar sangat bersih; 2) ramah lingkungan karena emisi gas karbon-mono-oksida lebih rendah 19-25 persen ketimbang BBM sehingga tidak memberikan kontribusi pada akumulasi karbon dioksida di atmosfer dan bersifat terbarukan; 3) angka oktan Etanol yang cukup tinggi (129) menghasilkan kestabilan proses pembakaran, karenanya daya yang diperoleh lebih stabil; 4) proses pembakaran dengan daya yang lebih sempurna akan mengurangi emisi gas karbon monoksida.

Campuran bioetanol 3 persen saja mampu menurunkan emisi karbonmonoksida menjadi hanya 1,3 persen.



0 komentar:

Posting Komentar